TULANG BAWANG BARAT — Di usia yang baru menginjak satu tahun, Imam Safi’i harus menjalani perjuangan yang tidak ringan. Balita asal Tiyuh Tirta Kencana, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) itu lahir dengan kelainan pada saluran pencernaan yang membuatnya harus menjalani serangkaian pengobatan dan operasi.
Kini, di tengah keterbatasan ekonomi keluarganya, Imam menghadapi tahapan penting dalam perjalanan pengobatannya. Ia masih membutuhkan penanganan medis dan direncanakan menjalani operasi terakhir untuk memulihkan kondisi kesehatannya.
Perjuangan keluarga Imam sebelumnya sempat terkendala persoalan kepesertaan BPJS Kesehatan. Kepesertaan BPJS bantuan pemerintah yang sebelumnya digunakan terputus, sehingga keluarga harus menggunakan BPJS Mandiri untuk memenuhi kebutuhan pengobatan.
Kondisi tersebut membuat perhatian dan kepedulian berbagai pihak menjadi sangat berarti bagi keluarga Imam.
Harapan itu mulai mendapat titik terang. BAZNAS Kabupaten Tulang Bawang Barat bersama Pemerintah Daerah turun langsung melihat kondisi Imam dan keluarganya, Rabu (7/10/2026).
Kunjungan tersebut bukan sekadar melihat kondisi kesehatan seorang balita. Di baliknya, ada upaya membangun pendampingan yang lebih menyeluruh agar Imam dapat memperoleh pengobatan, sementara keluarganya juga memiliki kekuatan untuk bertahan dan bangkit secara ekonomi.
Dalam kunjungan tersebut hadir Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Tubaba Untung Budiono, S.Sos., M.H., Kepala Dinas Kesehatan, Camat Tulang Bawang Tengah, jajaran BAZNAS Tubaba, Kepala Puskesmas Candra Mukti, serta Kepala Tiyuh Tirta Kencana.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Tubaba, Untung Budiono, mengatakan pemerintah daerah bersama BAZNAS berupaya memberikan pendampingan secara komprehensif kepada keluarga Imam.
> “Kita ingin membantu secara komprehensif, bukan hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga bagaimana keluarga ini bisa diberdayakan secara ekonomi agar lebih berdaya dan mandiri,” ujarnya.
Menurut Untung, persoalan yang dihadapi keluarga Imam tidak cukup diselesaikan hanya melalui bantuan pengobatan. Kondisi sosial dan ekonomi keluarga juga perlu diperhatikan agar mereka tidak terus berada dalam situasi rentan.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong adanya kolaborasi antara Pemkab, BAZNAS, pemerintah tiyuh, UPZ dan masyarakat sekitar.
Pemerintah melalui kecamatan bahkan akan mengupayakan bantuan bedah rumah bagi keluarga Imam. Sementara UPZ Tiyuh Tirta Kencana didorong untuk ikut menggerakkan kepedulian masyarakat agar dukungan terhadap keluarga tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan.
BAZNAS Tak Hanya Bantu Pengobatan
Kepedulian terhadap Imam juga diwujudkan BAZNAS Tubaba melalui bantuan nyata.
Ketua BAZNAS Kabupaten Tubaba, H. Purwanto, mengatakan pihaknya telah memberikan bantuan sebesar Rp2 juta untuk mendukung kebutuhan akomodasi kesehatan keluarga Imam.
Namun, bantuan tidak berhenti pada kebutuhan pengobatan.
BAZNAS juga menyiapkan bantuan produktif senilai Rp4 juta dalam bentuk ternak kambing. Bantuan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi keluarga Imam untuk membangun sumber penghasilan secara bertahap.
“BAZNAS tidak hanya hadir ketika ada kebutuhan pengobatan. Kami juga berupaya agar keluarga penerima bantuan dapat memiliki peluang untuk bangkit dan mandiri. Karena itu, bantuan produktif ini diharapkan bisa menjadi awal bagi keluarga untuk memiliki usaha yang dapat dikembangkan,” kata Purwanto.
Langkah tersebut menjadi penting bagi keluarga Imam. Sebab, ketika seorang anak harus menjalani pengobatan dalam waktu panjang, kebutuhan keluarga tidak hanya berkaitan dengan biaya medis, tetapi juga transportasi, akomodasi, kebutuhan sehari-hari dan keberlangsungan ekonomi rumah tangga.
Dinkes Upayakan BPJS PBI
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Tubaba melalui Dinas Kesehatan juga mengambil langkah untuk membantu keluarga Imam memperoleh kembali akses BPJS Kesehatan melalui kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Langkah itu diharapkan dapat memberikan kepastian akses pelayanan kesehatan bagi keluarga Imam, terutama karena sang anak masih membutuhkan penanganan medis lanjutan hingga operasi terakhir.
Bagi keluarga Yanto dan Eka Yulianti, perhatian berbagai pihak tersebut tentu menjadi harapan baru.
Sebelumnya, keluarga harus menghadapi persoalan kesehatan anak mereka sejak Imam lahir. Kondisi kelainan pada saluran pencernaan membuat masa kanak-kanak Imam berbeda dengan balita seusianya.
Kini, perjuangan itu belum selesai.
Operasi terakhir yang harus dijalani Imam menjadi salah satu tahapan penting yang masih menanti. Di saat yang sama, keluarganya juga harus memastikan kehidupan rumah tangga tetap berjalan di tengah keterbatasan ekonomi.
Karena itu, langkah BAZNAS dan Pemkab Tubaba yang tidak hanya memberikan bantuan kesehatan, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga, menjadi bentuk pendampingan yang lebih utuh.
Persoalan Imam akhirnya bukan lagi sekadar cerita tentang seorang balita yang sedang sakit. Ini menjadi gambaran bagaimana kepedulian pemerintah, lembaga zakat, pemerintah tiyuh, tenaga kesehatan dan masyarakat dapat dipertemukan untuk membantu sebuah keluarga melewati masa sulit.
Dan bagi Imam, dukungan itu memiliki arti sederhana namun sangat besar: kesempatan untuk menyelesaikan pengobatan, menjalani operasi terakhir, dan tumbuh seperti anak-anak lainnya.(jim)












