BANDAR LAMPUNG-Melihat potensi ikan asin yang begitu bagus dan sangat laku di pasaran, sangat disayangkan jika tidak ada perhatian dari pemerintah. Ikan asin Teri dari Pulau Pasaran merupakan salah satu pengrajin ikan asin terbaik dan tidak jarang banyak pengusaha dari Pulau Jawa yang membelinya.
Nah, melihat potensi ikan asin Pulau Pasaran tersebut, anggota DPRD Kota Bandar Lampung, Abdul Malik, mengusulkan agar dibuat terminal kecil (shalter) muat ikan asin.
“Ya ini sebetulnya usulan warga, minta diusulkan ada Shakter bongkar muat ikan asin, terminal kecil lah, karena kondisi saat ini para penjual dan pembeli ikan itu tidak ada lahan dan mereka menggunakan bahu jalan, kendala mereka ya tidak ada lahan, untuk bongkar muat agar tidak mengganggu jalan, selama ini bongkar muat di pingir jalan,” ujar Anggota Komisi IV DPRD Kota Bandar Lampung, Abdul Malik, seusai melakukan agenda Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Reses) di kampung Cungkeng, Kota Karang, Teluk Betung Timur (TBT), Kamis (19/08/2021).
Anggota legislatif asal PAN ini menjelaskan, Pulau Pasaran adalah salah satu penghasil ikan Teri terbaik di Indonesia, sangat sayang kalau tidak di dukung. Karena itu pihaknya akan membawa hal tersebut dalam usulan pokok pikiran fraksi PAN dalam pembahasan anggaran APBD Kotak Bandar Lampung.
“Lokasinya di RT 09-10/ LK 02 Kota Karang. Sayang kalau tidak di kelola dengan baik dan kesepian tidak mengganggu akses jalan,” ungkapnya.
Disinggung, bagaimana dengan usulan warga soal akses jembatan warga yang tinggal di atas air laut, apakah ada keluhan?
“Saya sudah pernah usulkan, tapi kan kita memahami juga kondisi keuangan kota, apalagi di masa pandemi covid-19 saat ini, hampir semua dana tersedot untuk penanganan wabah penyakit tersebut. Kondisi memang sudah tidak layak, saya kira atlet terkait mesti cek lokasi untuk melihat langsung bagaimana kondisi jembatan warga yang tinggal di atas air tersebut,” ungkapnya.
Lalu, tambah Abdul Malik, ada lagi masalah tempat pembuangan sampah sementara (TPS) hal ini juga sudah berulang kali diusulkan, namun tidak pernah digubris.
“Kan ini ada di depan rumah saya, wajar kalau saya protes, warga juga sudah tidak nyaman dengan bau sampah tersebut, harapan saya ada solusi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar soal TPS sampah di Kota Karang ini bisa teratasi,” tandasnya. (ron)












