TANGGAMUS – Suasana pagi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kotaagung tampak berbeda, Rabu (1/4/2026). Petugas pengamanan bergerak lebih sigap dari biasanya.
Namun, tidak ada ketegangan berlebihan. Justru yang terasa adalah pendekatan yang tenang, terukur, dan penuh penghormatan. Hari itu, razia insidentil digelar sebagai bagian dari komitmen menjaga keamanan sekaligus membangun kepercayaan publik.
Dipimpin langsung oleh Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas (KPLP), kegiatan diawali dengan pengarahan kepada warga binaan. Suara petugas terdengar tegas namun tetap bersahabat. Pendekatan humanis menjadi kunci tidak sekadar menjalankan prosedur, tetapi juga menjaga martabat setiap individu di dalamnya.
Satu per satu kamar hunian diperiksa. Warga binaan mengikuti proses dengan tertib. Penggeledahan badan dilakukan secara profesional, tanpa tindakan yang berlebihan. Di balik setiap langkah, ada pesan kuat: keamanan tidak harus dibangun dengan kekerasan, melainkan dengan kepercayaan dan kedisiplinan bersama.
Dari hasilnya pemeriksaan nihil. Tidak temukan ada alat komunikasi ilegal, tidak ada narkoba. Sebuah capaian yang tidak hanya mencerminkan keberhasilan razia, tetapi juga menunjukkan kondisi lapas yang semakin kondusif.
Kepala Lapas Kotaagung, Andi Gunawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pengamanan. Lebih dari itu, ini adalah bagian dari upaya menghadirkan pelayanan pemasyarakatan yang berkualitas.
“Kami ingin memastikan lingkungan lapas tetap bersih dari narkoba dan praktik ilegal. Ini bukan hanya soal keamanan, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kepercayaan publik adalah fondasi penting dalam sistem pemasyarakatan. Ketika masyarakat percaya, maka proses pembinaan warga binaan dapat berjalan lebih optimal. Karena pada akhirnya, tujuan utama pemasyarakatan adalah mengembalikan mereka ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Razia ini juga menjadi bagian dari implementasi 15 Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang menekankan pemberantasan peredaran narkoba dan penipuan di dalam lapas.
Namun di Kotaagung, program tersebut diterjemahkan lebih luas tidak hanya sebagai tindakan represif, tetapi juga sebagai upaya membangun budaya tertib dan sadar hukum.
Balik dinding tinggi dan jeruji besi, ada proses panjang yang terus berjalan. Bukan hanya pengawasan, tetapi juga pembinaan. Bukan hanya penegakan aturan, tetapi juga penanaman nilai.
Di pagi hari itu, melalui razia ini dapat berjalan dengan tertib dan humanis, Lapas Kotaagung kembali menunjukkan bahwa keamanan dan kemanusiaan bisa berjalan beriringan.(*)












