Rawajitu Utara Menjadi Lumbung Beras di Kabupaten Mesuji

Camat Rawajitu Utara, Samijo bersama sejumlah wartawan Kabupaten Mesuji.(foto: Misdi)
Camat Rawajitu Utara, Samijo bersama sejumlah wartawan Kabupaten Mesuji.(foto: Misdi)

MESUJI-Kecamatan Rawajitu Utara merupakan lumbung beras terbesar di Kabupaten Mesuji.

Bahkan, Kecamatan Rawajitu Utara salah satu dari tiga kecamatan lahan gambut di Kabupaten Mesuji, diprediksi akan menjadi daerah yang maju pesat kedepannya.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Mesuji, Pariman kepada sejumlah wartawan, Minggu (13/03/2022).

“Sistem pertaniannya sudah maju, dan hasil panen padi mencapai 6 ton/hektare. Bahkan, ada pertani yang hasil panen padinya mencapai 9 ton/hektare. Sedangkan, harga sawah di Kecamatan Rawajitu Utara Rp500 juta/hektare,” jelas Pariman.

Ia menyatakan, optimis Kecamatan Rawajitu Utara akan menjadi daerah yang sangat maju dengan didukung oleh sarana jalan yang cukup baik.

“Saat ini Rawajitu Utara, sudah luar biasa. Apalagi, jalan sudah mulus semakin luar biasa,” imbuhnya.

Pariman menjelaskan, wilayah Kecamatan Rawajitu Utara memiliki 13 desa dengan lahan gambut dan air payau (asin, red). Namun, petani mampu mengubah lahan tersebut menjadi areal persawahan dengan penghasil padi yang mampu panen dua kali dalam 1 tahun. Bahkan, ada yang sudah mampu 3 kali tanam pertahun.

“Ada potensi besar di Kecamatan Rawajitu Utara, setelah ditetapkan sebagai daerah kawasan industri,” imbuhnya.

Pariman mengatakan, dari 13 desa di Kecamatan Rawajitu Utara, ada satu desa tua yaitu, Desa Sungai Sidang dan sudah dimekarkan oleh Pemkab Mesuji.

Kemudian, lanjutnya, sebagian besar  Kecamatan Rawajitu Utara penduduknya merupakan pendatang atau disebut masyarakat Transmigrasi sejak tahun 80-90an.

Salah satunya, Camat Rawajitu Utara Samijo mengaku menjadi peserta Transmigrasi pada tahun 82-an.

Samijo mengatakan, dirinya datang ke Desa Panggungjaya Kecamatan Rawajitu Utara awalnya tidak yakin akan betah. Namun, anak pertamanya menguatkan hatinya hingga perjuangannya melawan kesulitan hingga saat ini.

“Awalnya saya tidak mengira, kalau lokasi rumah yang kita terima diatas rawa kanan dan kirinya dipenuhi pepohonan. Bahkan, rumah panggung yang kita tempati dibawahnya ada tonggak kayu-kayu besar. Namun, anak pertama saya ketika sampai di rumah panggung senyum dan tertawa bahagia, itu yang menguatkan saya dan menjadi obat serta penambah semangat,” ungkap Samijo, Jumat (11/03/2022).

Ia mengatakan, mulai menggarap lahan bagiannya sebagai peserta warga transmigrasi. Namun, diakuinya bahwa saat itu semua serba sulit baik akses jalan, dan lainnya hingga untuk mendapatkan air yang layak dikonsumsi harus berjalan kaki berkilo-kilo.

“Kehidupan saat itu, dirasakan pahit luar biasa. Saya, harus mencari tambahan penghasilan dengan mengajar sebagai guru. Saya menjadi guru honor sudah keliling dan akhirnya diangkat menjadi PNS,” jelas Samijo.

Kemudian, imbuhnya, ditarik menjadi staf di kecamatan sampai bisa menjadi camat. Bahkan, pernah menjadi Sekcam di Kecamatan Mesuji Timur sampai dilantik menjadi Camat Rawajitu Utara.

Samijo menyatakan, masyarakat Rawajitu Utara yang mayoritas adalah petani, saat ini secara ekonomi kehidupannya sudah semakin membaik. Karena, petani dalam 1 tahun bisa panen padi 2 kali.

“Menariknya, harga sawah di Rawajitu Utara saat ini bisa mencapai Rp300 juta/hektare, bahkan bisa lebih. Saya sangat optimis, apabila seluruh jalan poros atau penghubung antar desa sudah bagus dan mulus, maka Kecamatan Rawajitu Utara akan maju pesat,” pungkasnya. (Bud/Mis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *