Kotaagung — Lonjakan harga minyak goreng, kedelai, hingga plastik kemasan di pasar tradisional kian tak terkendali. Pedagang di Pasar Kotaagung menilai kondisi ini bukan sekadar gejolak pasar, melainkan bukti lemahnya kehadiran negara dalam melindungi pelaku usaha kecil.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga minyak goreng dilaporkan naik dari sekitar Rp210 ribu menjadi Rp235 ribu per kemasan. Bahkan, produk lain menembus Rp248 ribu. Kenaikan ini tidak berdiri sendiri, sehingga harga kedelai dan plastik kemasan turut merangkak naik, membentuk tekanan berlapis yang langsung menghantam pedagang.
“Kenaikannya beruntun. Minyak goreng naik, kedelai naik, plastik juga naik. Semua mahal, tapi pembeli sepi,” ujar Win, pedagang di Pasar Kotaagung.
Kenaikan pada bahan pendukung seperti plastik memang terlihat kecil di atas kertas, berkisar dua hingga sepuluh persen. Namun di lapangan, pedagang menyebut dampaknya jauh lebih besar karena terjadi bersamaan dengan lonjakan bahan utama.
“Dibilang kecil, tapi kalau semuanya naik, ini mencekik. Kami yang di bawah yang paling terasa,” katanya. Senin (6/4/2026).
Pedagang menyoroti tidak adanya intervensi nyata yang mampu menahan laju kenaikan harga. Mereka menilai kebijakan yang ada tidak menyentuh persoalan di tingkat bawah, sementara tekanan biaya terus meningkat tanpa jeda.
“Sejak ada dampak perang itu, harga berubah semua. Tapi kami tidak merasakan solusi apa-apa,” ujarnya.
Situasi ini diperparah oleh anjloknya daya beli masyarakat. Pedagang mengaku omzet terus menurun dibandingkan tahun sebelumnya, menciptakan jurang antara biaya yang melonjak dan pendapatan yang kian menyusut.
“Omzet jelas turun. Tahun ini lebih berat dari tahun kemarin,” kata dia.
Tak hanya faktor harga, pedagang juga mengkritik arah kebijakan yang dinilai semakin menjauh dari kepentingan pelaku usaha kecil. Pedagang kaki lima dan pasar tradisional disebut menjadi pihak yang paling terdampak, namun paling minim perlindungan.
“Yang kena orang kecil. Pedagang kaki lima juga banyak yang jatuh omzetnya,” ujarnya.
Dari hasil Pantauan di pasar memperkuat kondisi tersebut. Aktivitas pasar tampak lesu, dengan banyak lapak yang tidak lagi ramai. Ini menjadi indikator nyata melemahnya ekonomi di tingkat akar rumput.
Dalam situasi ini, pedagang mempertanyakan keberpihakan pemerintah. Mereka menilai, tanpa langkah konkret dan terukur, lonjakan harga hanya akan terus berulang dan memperdalam tekanan ekonomi masyarakat kecil.
“Harapan kami sederhana, pemerintah benar-benar hadir, bukan sekadar bicara. Karena yang kami hadapi ini nyata setiap hari,” tegas Win.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, pedagang memperingatkan potensi gelombang penurunan usaha kecil di pasar tradisional akan semakin meluas, menjadi krisis yang bukan lagi sekadar soal harga, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup masyarakat kecil. (*)












