Pemkab Lambar Dampingi Masyarakat Cegah Stunting

Kabid KB Dinas P2KB-P3A Kabupaten Lampung Barat, Heli Puspitawati. (foto: Hendri)
Kabid KB Dinas P2KB-P3A Kabupaten Lampung Barat, Heli Puspitawati. (foto: Hendri)

LAMPUNG BARAT-Sebagai bentuk dukungan pada program pemerintah pusat yakni, komitmen bersama, dalam penanganan dan pencegahan stunting secara terintegrasi, Pemkab Lampung Barat (Lambar), terus melaksanakan program yang telah dijalankan di lapisan masyarakat.

Salah satu upaya yang dilakukan dalam pencegahan stunting, adalah dengan pendampingan keluarga termasuk kepada balita, ibu hamil dan ibu menyusui sehingga faktor resiko dapat teratasi sedini mungkin.

Hal tersebut disampaikan Kabid KB, pada Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KB-P3A) Lambar, Heli Puspitawati saat ditemui di ruangannya, Senin (19/09/2022).

“Proses yang sudah kita jalankan sementara ini yakni, melakukan pendampingan terhadap Remaja, Calon Pengantin (Catin), Calon pasangan usia subur, pendampingan terhadap ibu hamil dan juga terhadap ibu pasca melahirkan,” ungkap Heli.

Pelaksanaannya sendiri kata Heli, telah dijalankan setiap bulannya, yang bekerja sama dengan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dan tim pendamping keluarga yang ada di masing-masing kecamatan.

“PKB ini sendiri di setiap Kecamatan ada, ada yang satu orang ada yang dua orang, untuk yang ASN sendiri sebanyak 14 orang dan kita juga ada penempatan P3K sebanyak 6 orang sehingga total terdapat 20 orang PKB yang tersebar 15 Kecamatan di Lambar,” kata Heli.

Dia menjelaskan, pembinaan ini lebih kepada dijalankan saat posyandu, karena yang mengikuti posyandu adalah balita, ibu hamil, dan ibu menyusui, sehingga memudahkan pihaknya dalam menyarasar pembinaan.

“Pembinaan kita lakukan satu atau dua kali dalam satu bulan tergantung kondisi dilapangan, karena memang di setiap daerahnya berbeda, seperti jarak tempuh, dan juga pola pikir masyarakat yang berbeda,” jelas Heli.

“Kadang meskipun sudah kita jadwalkan, karena jarak tempuh yang sulit atau jauh sehingga ada sebagian masyarakat yang tidak bisa mengikuti, ada juga sebagian masyarakat yang berfikir jika itu bukanlah hal yang penting sehingga merasa tidak perlu mengikuti,” pungkasnya. (Hendri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *