TULANG BAWANG BARAT — Bagi Arya Saputra, pelantikan sebagai Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) bukan sekadar pergantian kepengurusan. Amanah itu menjadi titik awal membangun organisasi petani yang benar-benar hadir hingga tingkat tiyuh dan mampu menjawab kebutuhan para petani.
Arya resmi dilantik bersama 14 Ketua HKTI kabupaten/kota se-Provinsi Lampung pada Jumat (31/7/2026). Ia akan memimpin HKTI Tubaba didampingi Ansyori sebagai Sekretaris dan Iwan Saputra sebagai Bendahara.
Di tengah tantangan sektor pertanian yang semakin kompleks, Arya menilai keberadaan HKTI harus lebih dari sekadar organisasi profesi. Menurutnya, HKTI perlu menjadi ruang perjuangan bagi petani sekaligus penghubung yang mempertemukan kepentingan petani dengan berbagai program pemerintah.
Karena itu, langkah pertama yang akan dilakukannya adalah memperkuat fondasi organisasi melalui pembentukan kepengurusan hingga ke tingkat kecamatan dan tiyuh.
“Organisasi ini harus hidup sampai ke bawah. Kami akan menyusun struktur dari tingkat kecamatan hingga tiyuh agar HKTI benar-benar dekat dengan petani dan memahami persoalan yang mereka hadapi,” ujar Arya saat dikonfirmasi wartawan, Senin (3/8/2026).
Arya berpandangan, organisasi yang kuat akan mempermudah penyaluran aspirasi petani sekaligus mengawal berbagai bantuan pemerintah agar tepat sasaran. Dengan jaringan yang menjangkau hingga tingkat tiyuh, setiap persoalan yang dihadapi petani diharapkan dapat segera diketahui dan diperjuangkan.
Ia juga membawa gagasan agar HKTI berperan aktif dalam mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, kebutuhan bahan pangan dapur MBG semestinya menjadi peluang bagi petani dan pelaku UMKM lokal untuk memperluas pasar hasil produksinya.
“HKTI siap menjadi penghubung agar dapur MBG dapat bermitra dengan petani dan UMKM di Tubaba. Kalau hasil pertanian masyarakat terserap oleh program pemerintah, manfaatnya akan kembali kepada petani dan menggerakkan ekonomi daerah,” katanya.
Arya berharap semangat kolaborasi menjadi fondasi dalam membangun sektor pertanian Tubaba. Ia mengajak pemerintah daerah, kelompok tani, serta masyarakat untuk bersama-sama menjadikan HKTI sebagai organisasi yang mampu menghadirkan solusi, mengawal kebijakan, dan memperjuangkan kesejahteraan petani.
“HKTI harus menjadi rumah bagi petani. Organisasi ini harus hadir, mendengar, dan bekerja agar setiap kebijakan benar-benar berpihak kepada mereka yang mengolah dan menjaga ketahanan pangan daerah,” tutupnya. (Jim)












