
LAMPUNG BARAT-Sebagai salah satu daerah penghasil kopi robusta terbesar, mayoritas penduduk Kabupaten Lampung Barat (Lambar), juga berprofesi sebagai petani kopi. Namun, profesi sebagai petani kopi yang sejatinya merupakan lakon hidup masyarakat Lambar turun temurun ini dinilai belum bisa dijadikan jaminan “sukses”.
Berbagai upaya dilakukan Pemerintah Daerah dalam membantu atau mengupayakan seorang petani kopi agar bisa mencapai tahap sukses. Mulai dari memberikan bantuan ilmu pengetahuan, ataupun yang lainnya, seperti menciptakan kopi premium yang dinilai memiliki harga jual yang lebih tinggi dari biasanya.
Kabid Perkebunan Disbunnak Kabupaten Lambar, Sumarlin menjelaskan, sebagai salah satu upaya meningkatkan kualitas seorang petani kopi, saat ini pihaknya ingin lebih mendorong mindset petani harus memiliki jiwa pengusaha.
“Contoh seorang petani, setelah selesai panen belum ketemu harga yang diinginkan, maka akan mampu menahan diri untuk tidak menjual kopi hasil panennya, tapi jika petani yang tidak memiliki jiwa pengusaha akan tetap menjual hasil panennya,” jelas Sumarlin, Senin (21/03/2022).
Menurutnya, itu bukan suatu hal yang mustahil karena di Lambar ada petani yang sudah menerapkannya.
“Kalau kita mau ngecek gampang, hingga saat ini di Lambar belum ada yang panennya bagus atau banyak, tapi setiap hari penjualan kopi skala besar dari petani masih banyak. Berarti, masih banyak petani yang masih menyimpan hasil panennya, dan baru menjualnya saat kopi tinggal sedikit, sehingga bisa mendapatkan harga tinggi,” ujar Sumarlin.
Selain itu, imbuhnya, petani kopi harus menciptakan kopi premium, karena untuk menemukan pasar premium maka harus menciptakan kopi premium dalam skala kecil, dan harus berjalan setiap tahun, dengan tujuan memperkenalkan lebih dahulu cita rasa kopi premium yang diciptakan.
“Pertama Kali dia harus mempunyai sampel ke orang-orang tertentu, misal sebanyak 10 kg dikirim keluar daerah, nanti kopi tersebut akan diuji, dan ternyata kopi yang dia kirim mempunyai citarasa yang bagus, otomatis orang luar daerah tersebut akan pesan dalam skala yang lebih banyak di kemudian harinya,” jelasnya lagi.
Setelah itu, kata dia, petani harus mempertahankan kualitas kopi premium yang dibuat, karena jika tidak maka cita rasa kopinya juga akan berubah, itulah kenapa kembali lagi seorang petani juga dituntut punya jiwa pengusaha.
Sumarlin menjelaskan, agar terciptanya petani kopi yang memiliki jiwa pengusaha tentunya memiliki kendala, kendalanya untuk di Lambar saat ini petani yang bisa menerapkan hal itu hanya petani yang sudah mempunyai manajemen yang lebih baik.
“Memang untuk menciptakan kopi premium ini sendiri dibutuhkan petani yang manajemen keuangannya sudah sedikit baik dan juga mempunyai jiwa disiplin yang kuat, khususnya disiplin jaga mutu,” tambahnya.
“Sudah pasti tidak mungkin jika seluruh petani kita mempunyai kedua faktor diatas, makanya yang bisa kita lakukan adalah untuk kawan-kawan kita yang sudah mempunyai pasar sendiri agar memayungi kawan-kawan petani yang lain agar yang lain juga memiliki semangat yang sama,” pungkasnya. (Hendri)












