Balitbang Lambar Dukung Peningkatan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

Balitbang Kabupaten Lampung Barat, menggelar Focus Group Discussion (FGD) pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan ekonomi kreatif. (foto: ist)
Balitbang Kabupaten Lampung Barat, menggelar Focus Group Discussion (FGD) pengembangan pariwisata berkelanjutan, dan ekonomi kreatif. (foto: ist)

LAMPUNG BARAT-Sebagai salah satu upaya peningkatan sektor ekonomi daerah, Pemkab Lampung Barat (Lambar) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema pengembangan pariwisata berkelanjutan dan ekonomi kreatif.

FGD tersebut, dihadiri Ketua Umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia (ADWI) Andi Yuwono, Kepala Diskoperindag Tri Umaryani, Kepala Disporapar Nukman, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), dan penggiat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Kabid Sosial Ekonomi dan Pemerintahan, Sri Mulyani mewakili Kepala Balitbang Lambar, Paijo mengatakan, pihaknya menilai salah satu sektor jasa yang memiliki potensi besar dalam meningkatkan perekonomian adalah sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Lambar memiliki potensi, dan kekayaan alam yang begitu eksotik, keluhuran dan keanekaragaman budaya dan keramahan masyarakatnya. Selain itu, pesona bukit skala brak dengan lanskap dataran tinggi berupa pegunungan dan perbukitan dengan kecantikan hutan hujan tropis yang masih terjaga, perkebunan kopi Robusta dan danau-danau dengan karakteristik berbeda menjadikan Lambar sangat layak dimasukkan sebagai salah satu tujuan wisata,” ungkapnya, Senin (13/06/2022).

Sri menjelaskan, pengembangan desa wisata sejatinya menjadi salah satu upaya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Desa wisata merupakan suatu bentuk penyesuaian antara akomodasi, atraksi, dan fasilitas pendukung lainnya, yang disajikan pada suatu struktur yang menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat.

“Pembangunan desa wisata yang memanfaatkan potensi alam dan budaya yang ada di desa dan melibatkan masyarakat pedesaan, dapat berfungsi sebagai pemberdayaan masyarakat selaras dengan pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata,” jelasnya.

“Melihat geliat pariwisata di Lambar, saat ini di beberapa pekon telah marak dikembangkan destinasi wisata lokal, diantaranya wisata kampung kopi pekon Rigis Jaya, wisata temiangan Hill, wisata Arum Jeram Way Besai Rafting, wisata Bukit Bawang Bakung dan lainnya,” terusnya.

Dalam mengembangkan pariwisata harus memenuhi tiga konsep wisata diantaranya, Something to see, objek wisata harus mempunyai sesuatu yang dapat dilihat, Something to do, agar wisatawan yang berwisata dapat melakukan sesuatu yang berguna dengan perasaan senang, lalu Something to buy, fasilitas untuk wisatawan berbelanja berupa oleh-oleh.

“Pembentukan desa wisata bertujuan untuk menciptakan ekonomi baru, ekosistem pedesaan, menekan angka urbanisasi, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan,” terangnya.

Yang menjadi persoalan, lanjut Sri Mulyani, bagaimana masyarakat pedesaan dibina secara berkesinambungan, supaya potensi-potensi yang dimiliki suatu pekon bisa digali secara optimal, sehingga dapat memberikan hasil maksimal bagi Petani, Masyarakat Desa, Pengusaha, dan menjadi sumber pendapatan yang dapat diandalkan.

“Karenanya, Balitbang menyelenggarakan FGD untuk membahas persoalan tersebut dengan menghadirkan narasumber bapak Andi Yuwono (Ketua umum Asosiasi Desa Wisata Indonesia) dan seluruh Pokdarwis juga pelaku UMKM yang ada di Lambar,” pungkasnya. (Hendri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *