MESUJI— Hamparan sawah pasang surut di Desa Tirtalaga, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Mesuji, menjadi lokasi penelitian yang dilakukan oleh tim dari IPB University bersama Universitas Muhammadiyah Palembang dan Pemerintah Kabupaten Mesuji.
Penelitian berjudul “Perancangan Sistem Informasi Geografis Pertanian Desa Berbasis Partisipatory Mapping dan Kecerdasan Buatan untuk Pengembangan Ekonomi Kabupaten Mesuji, Lampung”.
Penelitian ini melibatkan Supriyanto, Ph.D. dan Dr. Mohamad Solahudin dari IPB University, Dr. Jun Harbi dari Universitas Muhammadiyah Palembang, serta Dr. Untung, S.Kom., MM dari Bapperida Kabupaten Mesuji.
Tim melakukan pengambilan data menggunakan drone untuk melihat kondisi lahan sawah secara lebih detail. Dari udara, hamparan sawah, kanal, hingga pola kawasan pertanian dapat dipetakan dan dianalisis.
Supriyanto mengatakan, penggunaan drone menjadi salah satu cara untuk menganalisa kondisi tanaman secara akurat dan detail dalam rangka optimilasisasi produksi kedepan.
“Dengan drone, kita bisa melihat kondisi lahan dari atas secara lebih utuh. Kita bisa mendapatkan data mengenai hamparan sawah, kanal, dan kondisi di sekitarnya. Data ini nantinya bisa kita gunakan untuk memahami bagaimana karakteristik lahan pasang surut di Mesuji,” kata Supriyanto Senin (10/08/2026)
Sementara itu Dr. Untung yang notabene nya sebagai ASN di Bapperida mengatakan data tersebut tidak hanya penting untuk kepentingan penelitian. Jika dikembangkan lebih lanjut, informasi spasial lahan dapat membantu pemerintah dalam merencanakan pengembangan pertanian dan pemanfaatan lahan di Mesuji.
“Harapannya data ini tidak berhenti sebagai data penelitian. Kalau bisa dikembangkan menjadi informasi yang dapat digunakan pemerintah dan masyarakat, tentu akan lebih bermanfaat. Perencanaan pertanian yang didukung data akan membantu kita melihat potensi ekonomi Mesuji dengan lebih baik,” jelasnya.
Di sela pengambilan data drone, tim juga berdiskusi dengan Sikun selaku Kepala Desa Tirtalaga kecamatan Mesuji. Pertemuan tersebut menjadi bagian penting karena kondisi lahan pasang surut tidak cukup dipahami hanya melalui data dan peta.
Pada kesempatan itu Sikun menjelaskan bahwa dia merupakan warga transmigran yang telah lama tinggal di Desa Tirtalaga. Ia juga menceritakan bagaimana masyarakat setempat menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi air yang berubah sepanjang musim.
Persawahan di wilayah tersebut dikelilingi kanal yang terhubung dengan Sungai Mesuji. Saat Musim Tanam (MT) 1 dan MT 2, air masih dapat dimanfaatkan untuk kegiatan budidaya. Namun, ketika memasuki MT 3, kondisi air mulai payau sehingga petani menghadapi kesulitan untuk melanjutkan budidaya.
“Kalau MT 1 dan MT 2, air masih bisa digunakan untuk bertani. Tetapi menjelang MT 3, air mulai payau. Jadi memang kita harus melihat kondisi air dan menyesuaikan kegiatan pertanian,” kata Sikun.
Menurut Sikun, masyarakat sebenarnya sudah memiliki pengalaman dalam menghadapi kondisi tersebut. Namun, dukungan teknologi dan penelitian diharapkan dapat membantu petani memahami kondisi lahan dengan lebih baik.
“Kami berharap penelitian ini bisa membantu masyarakat. Pertanian di sini memang berbeda karena tergantung kondisi air. Kalau kita bisa memahami lahannya dengan lebih baik, mudah-mudahan pertanian di sini bisa terus berjalan dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Bagi tim peneliti, pengalaman masyarakat seperti yang disampaikan Sikun menjadi pelengkap penting bagi data yang diperoleh melalui teknologi drone. Teknologi memberikan gambaran dari udara, sementara masyarakat memberikan cerita dan pengalaman tentang apa yang terjadi di lapangan. Keduanya kemudian dipadukan untuk memahami persoalan pertanian pasang surut di Mesuji secara lebih menyeluruh.
Penelitian ini diharapkan tidak hanya menghasilkan data akademik, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi pengembangan pertanian dan perekonomian masyarakat Kabupaten Mesuji.
Bagi Mesuji, sawah pasang surut bukan sekadar hamparan lahan. Di dalamnya ada kehidupan masyarakat, pengalaman transmigrasi, sumber penghidupan, sekaligus potensi ekonomi yang perlu dikelola secara berkelanjutan.(Mis)












