43 Siswa SDN 3 Kedaloman Diduga Keracunan Usai Santap MBG, Dinkes Tanggamus Lakukan Penyelidikan

Tanggamus Lampung— Dugaan keracunan makanan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Provinsi Lampung. Sebanyak 43 siswa SD Negeri 3 Kedaloman, Kecamatan Gunung Alip, Kabupaten Tanggamus, dilaporkan mengalami mual dan muntah setelah menyantap paket makanan MBG, Senin (26/10/2026).

Puluhan siswa tersebut harus mendapatkan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan. Peristiwa ini menjadi perhatian serius, mengingat program MBG menyasar anak-anak usia sekolah yang harus mendapatkan jaminan keamanan pangan, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan gizi.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, dr. Herry Novrizal, menjelaskan bahwa para siswa menerima paket MBG pada siang hari. Makanan itu kemudian dikonsumsi sekitar pukul 14.30 WIB, bertepatan dengan jam istirahat siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar pada sif siang.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 18.30 WIB, bidan desa mulai menerima laporan adanya anak-anak yang mengalami mual dan muntah hebat.

“Hingga pukul 21.15 WIB, jumlah siswa yang dilaporkan terdampak mencapai 43 orang. Begitu laporan masuk, tenaga kesehatan langsung bergerak memberikan pertolongan, pengobatan, dan observasi,” ujar Herry, Senin malam.

>43 Siswa Mendapatkan Penanganan Medis

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus, penanganan terhadap para siswa dilakukan di beberapa titik layanan kesehatan.

Rinciannya, sebanyak 20 siswa ditangani di Puskesmas Kedaloman. Dari jumlah tersebut, empat siswa mendapatkan infus, sedangkan 16 lainnya menjalani rawat jalan.

Sementara itu, tujuh siswa mendapatkan penanganan di Puskesmas Talang Padang. Dua siswa di antaranya dipasangi infus dan lima lainnya menjalani rawat jalan.

Adapun 16 siswa lainnya mendapatkan penanganan langsung dari bidan desa setempat.

Seluruh penanganan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi siswa terpantau dan mereka memperoleh pertolongan sesuai kebutuhan medis.

>Penyebab Belum Dipastikan, Sampel Diuji di Laboratorium

Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus bersama Camat Gunung Alip, unsur pimpinan kecamatan, dan pihak sekolah telah melakukan koordinasi untuk menangani situasi darurat tersebut.

Namun, hingga laporan awal disampaikan, penyebab pasti munculnya gejala yang dialami puluhan siswa itu belum dapat dipastikan. Dinas Kesehatan masih melakukan penelusuran dan mengambil sampel untuk pemeriksaan laboratorium.

Karena itu, dugaan keterkaitan antara makanan MBG dan keluhan kesehatan para siswa masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan ilmiah. Hasil pengujian menjadi bagian penting untuk mengetahui kemungkinan sumber masalah dan menentukan langkah tindak lanjut.

Meski demikian, kejadian yang melibatkan puluhan siswa dalam satu lingkungan sekolah ini tidak boleh dipandang sebagai persoalan sepele. Penanganan korban harus berjalan beriringan dengan penelusuran penyebab secara menyeluruh, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

>Orang Tua Diminta Waspada, Evaluasi Keamanan Pangan Mendesak

Dinas Kesehatan Tanggamus mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar. Orang tua yang mendapati anaknya mengalami gejala susulan, seperti sakit perut atau diare, diminta segera membawa anak ke puskesmas atau bidan desa terdekat.

Di sisi lain, kejadian ini menjadi momentum bagi seluruh pihak terkait untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG, khususnya aspek keamanan pangan, penanganan makanan, distribusi, serta pengawasan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa.

Program pemenuhan gizi bagi anak sekolah harus dijalankan dengan standar keamanan yang ketat. Pemenuhan gizi tidak cukup hanya diukur dari tersedianya makanan, tetapi juga harus dipastikan bahwa makanan tersebut aman dikonsumsi dan tidak menimbulkan risiko bagi kesehatan penerimanya.

Dinas Kesehatan menyatakan kejadian ini akan menjadi bahan evaluasi bersama pihak terkait guna memastikan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG.

>Bukan Kasus Pertama di Lampung

Berdasarkan catatan yang dihimpun dari berbagai sumber, dugaan gangguan kesehatan setelah konsumsi paket MBG juga pernah dilaporkan di sejumlah wilayah lain di Provinsi Lampung.

Pada akhir September 2026, puluhan murid sekolah dasar di Kabupaten Lampung Tengah dilaporkan mengalami kejadian serupa. Sebelumnya, kasus serupa juga disebut terjadi di SMP Negeri 1 Talang Padang, Kabupaten Tanggamus, pada Juli 2026.

Rangkaian laporan tersebut menegaskan pentingnya pengawasan keamanan pangan yang konsisten dalam pelaksanaan program MBG. Setiap kejadian harus ditindaklanjuti berdasarkan bukti, disertai evaluasi terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan apabila ditemukan indikasi masalah.

Hasil pemeriksaan laboratorium dalam kasus SD Negeri 3 Kedaloman kini menjadi salah satu hal yang perlu ditunggu untuk memperjelas penyebab kejadian. Publik juga membutuhkan informasi tindak lanjut yang terbuka agar langkah perbaikan dapat dilakukan secara tepat.

Keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama. Penelusuran penyebab tidak boleh berhenti pada penanganan gejala, tetapi perlu menghasilkan evaluasi konkret agar kejadian serupa dapat dicegah.(*)