Berpotensi Jadi Objek Wisata, Penggiat Sejarah dan Budayawan Kunjungi Makam Belanda di Tubaba

TULANGBAWANG BARAT – Penggiat Sejarah dan Budayawan meninjau makam kolonial Belanda yang berada di Tiyuh Gedung Ratu, Kecamatan Tulangbawang Udik (TBU) Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba), Sabtu (18/02/2023).

Peninjauan yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disporarekraf), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Camat TBU serta Tokoh adat itu dilakukan dalam rangka melihat dan mengidentifikasi  makam kolonial Belanda.

Penggiat Budaya dan Adat Budaya Lampung, Arman AZ mengatakan, makam yang kolonial Belanda tersebut berpotensi menjadi objek wisata sejarah.

” Keberadaan makam ini sangat penting. Karena ini bisa menjadi objek wisata sejarah. Ini juga bisa dijadikan bagian diplomasi budaya yang ada di Kabupaten Tubaba dengan pemerintah Hindia Belanda,” ujar Arman saat dikonfirmasi wartawan usai melaksanakan peninjauan.

Tentunya, lanjut Arman, untuk mewujudkan hal tersebut perlu dilakukan penelusuran yang lebih jauh dan lebih dalam tentang siapa sebenarnya sosok yang dikuburkan di makam ini.

” Yang pastinya kita perlu menelusuri arsip-arsip atau dokumen tentang siapa saja yang pernah tinggal di Kabupaten Tulang Bawang.
Karena daerah ini dulu masih menyatu dengan Tulang Bawang sebelum pemekaran,” kata dia.

Menurutnya, perlu juga dilakukan penelusuran berkaitan dengan dokumen-dokumen yang menunjukkan tentang adanya kehidupan orang Belanda di Tubaba.

” Kita akan melihat arsip-arsip yang ada di Arsip Nasional, Kota Jakarta. Dan lebih jauh, kita akan melacak arsip yang ada di Den Haag, Belanda. Karena arsip-arsip pemerintahan itu ada disana,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Tiyuh Gedung Ratu, Juwaini Bandarsyah mengatakan, tujuan utama dilakukan peninjauan adalah agar makam seorang warga Belanda ini menjadi sebuah pengetahuan baru untuk Kabupaten Tubaba.

” Makam ini membuktikan bahwa Tubaba dimasa lampau sudah mengenal dan menggunakan sistem politik yang cukup tinggi. Sudah berinteraksi dengan masyarakat luas. Dibuktikan dengan tidak ada bekas atau jejak peperangan di Tubaba,  masyarakat Tubaba sudah bisa membangun komunikasi yang baik dengan bangsa Belanda. Yakni dengan berdiplomasi politik,” jelasnya.

Ia juga menyebut, terdapat beberapa dokumen ataupun arsip yang mendukung tentang adanya kehidupan orang Belanda di Tubaba.

“Kita sudah menemukan peta kabupaten Tubaba tahun 1915, kemudian peta tahun 1937, beberapa surat tentang administrasi pemerintahan Dan satu lagi, ada sebuah naskah cerita roman,” ucapnya.

Ia berharap, kehadiran para penggiat Sejarah dan Budayawan dapat mengidentifikasikan dan menjelaskan sosok kolonial Belanda yang dimakamkan tersebut.

” Beliau akan membantu memastikan siapa sosok yang dimakamkan disini. Kemudian, kita juga memberitahu, bahwa makam ini adalah aset Kabupaten Tubaba secara umum. Bukan sekedar aset Tiyuh Gedung Ratu,” kata Juwaini.

Terpisah,  Penggiat Budaya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Rio Teguh mengatakan, makam kolonial Belanda ini bisa dijadikan cagar budaya. Akan tetapi setelah melalui proses pembuktian terlebih dahulu.

” Ini didaftarkan dulu sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCP) oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat. Nanti akan turun tim untuk melakukan penelitian dan pengkajian,” pungkasnya. (Jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *