TANGGAMUS – Ancaman gelombang besar terus menghantui warga Kampung Nelayan Kapuran, Kecamatan Kotaagung, Kabupaten Tanggamus. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, talud pemecah ombak yang menjadi satu-satunya benteng perlindungan warga justru dibiarkan rusak dan nyaris tak lagi berfungsi.
Talud yang dibangun pemerintah beberapa tahun lalu kini hanya menyisakan tinggi sekitar 50 sentimeter dari permukaan pasir. Banyak bagian bangunan yang retak, ambles, bahkan hancur diterjang ombak. Kondisi itu membuat air laut dengan mudah masuk ke perkampungan setiap kali gelombang besar datang.
Sariman (60), warga setempat, mengatakan masyarakat kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan, terutama saat musim badai tiba.
“Setiap ombak besar datang, air laut langsung masuk ke kampung. Kami seperti menunggu giliran rumah mana yang akan rusak berikutnya,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, pada pertengahan 2025 lalu ombak besar sempat menghantam pesisir kampung dan menghancurkan sejumlah rumah warga serta bangunan majelis pengajian. Bahkan, areal pemakaman umum tidak luput dari terjangan gelombang.
“Batu nisan banyak yang rusak dan terseret ke laut. Sampai kerangka di dalam makam ikut hilang terbawa air. Ini bukan sekadar kerusakan, tapi sudah menyentuh sisi kemanusiaan,” kata Sariman.
Namun hingga kini, kata warga, belum terlihat langkah nyata dari pemerintah daerah untuk memperbaiki ataupun memperkuat tanggul tersebut.
Kondisi yang tak kalah memprihatinkan juga dialami SDN 3 Kapuran yang berdiri tepat di bibir pantai. Junet (45), warga setempat, mengatakan bangunan sekolah itu kini mengalami kerusakan serius setelah diterjang ombak besar tahun lalu.
“Dinding retak, atap bolong, lantai kelas rusak. Ada sekitar 150 anak sekolah di sana. Kami khawatir suatu hari nanti bangunan itu bisa roboh atau hilang digerus laut,” ujarnya.
Bagi warga, pembiaran terhadap kondisi talud yang rusak ini menimbulkan pertanyaan besar tentang prioritas dan kepekaan pemerintah daerah terhadap keselamatan masyarakat pesisir.
Di saat ancaman gelombang datang hampir setiap hari, warga justru merasa seolah harus menghadapi bencana sendirian tanpa perlindungan yang memadai dari pemerintah yang seharusnya hadir.
“Kami bukan meminta yang muluk-muluk. Kami hanya ingin kampung kami aman. Talud ini harus diperbaiki dan ditinggikan. Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah ada korban jiwa,” tegas Junet.
Kini warga Kapuran hanya bisa berharap pemerintah Kabupaten Tanggamus dan pemerintah pusat segera membuka mata terhadap kondisi di pesisir Kotaagung.
Sebab bagi masyarakat nelayan di sana, setiap malam bukan hanya waktu untuk beristirahat, tetapi juga waktu untuk berjaga—khawatir ombak besar kembali datang menghancurkan kampung mereka. (Bowo)












