TULANG BAWANG BARAT– Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) kembali menjadi sorotan. Antrean yang mengular hingga memakan badan jalan menyebabkan kemacetan parah dan mengganggu aktivitas masyarakat serta pengguna jalan lainnya.
Merespons cepat kondisi tersebut, Ketua DPRD Tubaba, Busroni, turun langsung ke lokasi untuk mengatur arus lalu lintas yang tersendat akibat antrean kendaraan di SPBU 24.345.109 Kali Miring dan SPBU 24.345.116 Candra Mukti, Simpang PU, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Minggu (14/6/2026).
Langkah cepat pimpinan legislatif itu dilakukan setelah antrean kendaraan yang didominasi pemburu solar dan pertalite semakin tidak terkendali hingga menimbulkan kemacetan di ruas jalan utama.
Busroni menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas, senggolan antar kendaraan, hingga konflik di tengah masyarakat.
“Saya turun langsung karena ini sudah mengganggu kepentingan masyarakat banyak. Jalan umum tidak boleh dikuasai antrean kendaraan yang hendak mengisi BBM,” tegasnya.
Menurut Busroni, persoalan yang terjadi bukan hanya soal panjangnya antrean kendaraan, tetapi juga berkaitan dengan ketersediaan dan distribusi BBM yang harus diawasi secara serius.
Karena itu, ia meminta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait segera turun tangan melakukan pengawasan terhadap SPBU yang kerap mengalami antrean panjang.
Ia meminta Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Koperindag) Tubaba melakukan pengecekan terhadap stok dan distribusi bahan bakar minyak guna memastikan pasokan yang tersedia sesuai kebutuhan masyarakat serta tidak terjadi penyimpangan dalam penyalurannya.
“Saya minta Dinas Koperindag melakukan pengecekan terkait stok dan ketersediaan minyak. Jangan sampai masyarakat kesulitan mendapatkan BBM karena lemahnya pengawasan,” kata Busroni.
Selain itu, ia juga meminta Dinas Perhubungan Tubaba mengambil langkah konkret untuk mengurai dan menertibkan antrean kendaraan yang selama ini memakan badan jalan dan menjadi penyebab kemacetan.
Menurutnya, pengelola SPBU harus memiliki mekanisme pengaturan antrean yang jelas dan transparan. Salah satunya dengan mengumumkan jumlah stok BBM yang tersedia sehingga masyarakat mengetahui batas kendaraan yang dapat dilayani.
“Kalau stok hanya cukup untuk 100 kendaraan, ya umumkan. Seratus kendaraan itu saja yang antre. Jangan sampai antrean mengular berkilo-kilometer seperti ini dan mengganggu pengguna jalan lainnya,” ujarnya.
Busroni juga menyoroti dugaan keberadaan kendaraan pengecor yang dinilai turut memperparah panjangnya antrean BBM di lokasi tersebut.
Ia menegaskan bahwa fokus penertiban yang didorong DPRD mencakup dua aspek utama, yakni pengawasan stok BBM dan pengaturan antrean kendaraan.
“Jadi yang kita tertibkan ada dua hal. Pertama stok dan ketersediaan minyaknya harus jelas. Kedua soal antrean kendaraan yang selama ini menimbulkan kemacetan. Ini harus menjadi perhatian bersama karena menyangkut kepentingan masyarakat luas,” tegasnya.
Sebagai bentuk keseriusan DPRD dalam mengawal kepentingan masyarakat, Busroni memberikan peringatan keras kepada pengelola SPBU agar segera melakukan pembenahan. Jika tidak ada perbaikan dalam waktu dekat, DPRD akan memanggil pihak pengelola untuk dimintai pertanggungjawaban.
Bahkan, DPRD Tubaba siap merekomendasikan evaluasi terhadap izin operasional SPBU yang dinilai tidak mampu mengendalikan antrean dan menimbulkan gangguan ketertiban umum.
“Saya tidak ingin masyarakat menjadi korban akibat buruknya pengelolaan antrean ini. Jika tidak segera dibenahi, kami akan panggil pengelola SPBU ke DPRD dan meminta izin usahanya dievaluasi,” tegas Busroni.
Ia menambahkan, DPRD akan terus memantau perkembangan persoalan tersebut dan tidak segan mengambil langkah lebih lanjut apabila tidak ada perbaikan dari pihak pengelola SPBU maupun instansi terkait.
Reaksi cepat DPRD tersebut mendapat perhatian masyarakat yang selama ini mengeluhkan kemacetan akibat antrean BBM yang kerap terjadi dan mengganggu aktivitas sehari-hari. (Jim)












