DAERAHHUKUMPESAWARAN

Polres Pesawaran Gelar Konferensi Pers Ungkap Kasus Persetubuhan

Kapolres Pesawaran gelar konferensi pers.(foto: ist)

PESAWARAN-Kepolisian resor (Polres) Pesawaran berhasi mengungkap kasus persetubuhan yang dilakukan seorang petani dengan inisial HRT (46) yang diduga sebagai guru silat korban. dengan modus ilmu dapat menyembuhkan korban dari ilmu hitam, Rabu (23/11/2022).

Sebelumnya, HRT (46) telah ditangkap oleh Unit IV PPA Polres Pesawaran atas perbuatannya yang telah melakukan perbuatan tercela terhadap korban, yang diketahui sebagai siswi SMA lebih dari 10 kali dalam kurun waktu satu tahun.

Kapolres Pesawaran AKBP Pratomo Widodo menjelaskan, jika perbuatan yang dilakukan oleh pelaku kepada korban AWS (17) sudah berulang ulang yang diduga dilakukan pelaku di rumah nenek korban.

Prartomo mengatakan, antara pelaku dan korban sudah saling mengenal karena pelaku HRT tersebut adalah seorang pelatih perguruan silat di lingkungan rumah pelaku maupun korban yang bertempat di Desa Maja, Kecamatan Marga Punduh, Kabupaten Pesawaran.

“Yang mana korban adalah murid dari perguruan silat yang pelaku latih” jelas AKBP Kapolres.

Dia menambahkan, kronologis kejadian dari kasus persetubuhan tersebut, dirinya pun menceritakan perbuatan yang dilakukan pelaku menggunakan tipu muslihat untuk memperdaya korban.

Dimana pelaku saat itu menakuti-nakuti korban dengan dalih jika korban terkena ilmu hitam atau pelet.

Kemudian lanjut Pratomo, korban yang merasa ketakutan akan bualan dan tipu muslihat pelaku tersebut akhirnya menuruti permintaan bejat pelaku.

Keduanya diduga memiliki hubungan dekat dengan pelaku, sehingga korban pun menuruti permintaan dari pelaku dikarenakan merupakan pelatih di salah satu perguruan silat.

Untuk memuluskan hasratnya, Dengan modus ritual penghilangan ilmu hitam, pelaku mempersiapkan dupa, pasir kasar, lilin, dupa aroma terapi, pasir halus, parfum dan tanah.

Dan akhirnya pada Kamis 30 September 2021 perbuatan pelaku melakukan persetubuhan tersebut dikediaman nenek korban dengan dalih pengobatan.

“Dalam modus ritual tersebut, pelaku melakukan hal tersebut sebanyak 10 kali dan berlangsung dalam satu tahun” kata Pratomo.

Karna perbuatan pelaku terhadap korban yang dilakukan secara terus menerus, akhirnya ibu dari korban pun mencurigai gelagat korban yang aneh.

Dimana ibu dari korban tersebut mendesak untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi.

Karena desakan dari sang ibu, akhirnya korban pun mulai berani untuk menceritakan apa yang terjadi dan atas perbuatan yang sudah dilakukan oleh pelaku HRT kepadanya.

Mendengar pengakuan sang anak, lalu ibu korban yang tidak terima atas perbuatan dari pelaku, kemudian melaporkannya ke Mapolres Pesawaran.

Sehingga atas laporan dan perbuatan yang telah dilakukan oleh pelaku tersebut, Satreskrim Polres Pesawaran berhasil meringkus pelaku HRT tanpa perlawanan.

Atas perbuatannya pelaku terancam dengan pasal 81 ayat 2 juncto pasal 76 D, undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang perlindungan anak dan wanita.

“Dengan hukuman pidana paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda sebanyak Rp 5 miliar,” tandasnya. (Indra)

Comment here