TANGGAMUS, LAMPUNG — Kabupaten Tanggamus mempertahankan perannya sebagai salah satu sentra utama produksi kopi di Provinsi Lampung. Sepanjang 2025, produksi kopi daerah ini tercatat mencapai 39.239 ton dari total areal perkebunan sekitar 41.519 hektare.
Kecamatan Ulubelu menjadi penyumbang produksi terbesar. Produksi kopi di wilayah tersebut pada 2025 mencapai sekitar 12.067 ton, dengan luas areal perkebunan sekitar 10.780 hektare.
Besarnya kontribusi Ulubelu sekaligus menempatkan kecamatan tersebut sebagai salah satu kawasan strategis dalam pengembangan kopi Robusta Tanggamus.
Plt. Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanggamus, drh. Ari Priyanto, mengatakan pengembangan kopi di Ulubelu ditopang oleh luas areal perkebunan, jumlah petani, serta kondisi wilayah yang mendukung budidaya kopi.
“Ulubelu menjadi kawasan penting dalam pengembangan kopi Robusta Tanggamus karena didukung oleh luas areal perkebunan yang besar, jumlah petani yang cukup banyak, serta kondisi wilayah yang sesuai untuk budidaya kopi,” kata Ari, Kamis (17/9/2026).
Selain Ulubelu, Kecamatan Air Naningan, Pulau Panggung, dan Sumberejo juga menjadi kawasan sentra produksi kopi Tanggamus. Keempat wilayah tersebut memiliki areal perkebunan yang relatif luas dan berperan dalam menopang produksi kopi daerah.
Produksi 2026 Belum Dapat Dipastikan
Berbeda dengan capaian 2025, pemerintah daerah belum dapat memastikan arah produksi kopi Tanggamus pada 2026. Data produksi tahun berjalan masih menunggu proses rekapitulasi hasil panen secara keseluruhan.
Ari menegaskan, peningkatan luas areal tidak otomatis berbanding lurus dengan peningkatan produksi. Faktor yang lebih menentukan adalah produktivitas tanaman per hektare.
Produktivitas dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kondisi cuaca, curah hujan, kesuburan tanah, kualitas bibit, pemupukan, pemeliharaan tanaman, hingga serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).
Perubahan pola hujan juga menjadi tantangan bagi petani. Curah hujan yang terlalu tinggi dapat mengganggu pembungaan dan pembentukan buah, sementara periode kering yang berkepanjangan berpotensi menekan pertumbuhan serta produktivitas tanaman.
“Jadi peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada luas areal perkebunan, tetapi terutama pada peningkatan produktivitas per hektare melalui budidaya yang baik, pemupukan yang tepat, penggunaan bibit berkualitas, pengendalian OPT serta adaptasi terhadap perubahan iklim,” jelas Ari.
Produktivitas Naik, Kesenjangan di Tingkat Petani Masih Ada
Secara umum, produktivitas kopi Tanggamus menunjukkan peningkatan. Pada 2014, produktivitas berada di kisaran 800 kilogram per hektare. Pada 2025, angka tersebut meningkat menjadi sekitar 1,25 ton per hektare.
Namun, capaian tersebut belum mencerminkan kondisi seluruh petani. Di sejumlah sentra produksi, produktivitas masih berada pada kisaran 800 hingga 900 kilogram per hektare.
Kondisi itu menjadi salah satu pekerjaan yang perlu ditangani dalam upaya memperkuat sektor kopi Tanggamus. Pemerintah daerah mendorong peningkatan produktivitas melalui pembinaan dan pendampingan petani secara berkelanjutan.
Langkah yang dilakukan mencakup penerapan praktik budidaya kopi yang baik, pemupukan berimbang, pengelolaan kesuburan tanah, serta peremajaan tanaman yang sudah tidak produktif.
Penggunaan bibit berkualitas yang sesuai dengan kondisi agroekologi wilayah juga terus didorong. Di sisi lain, kelompok tani mendapatkan pendampingan dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman.
Pada 2026, pendampingan petani kopi di Kecamatan Gisting dilakukan bersama BRMP, khususnya untuk menangani persoalan penurunan kualitas lahan yang dinilai berpotensi memengaruhi produktivitas.
Tak Cukup Mengejar Produksi
Pengembangan kopi Tanggamus ke depan tidak cukup hanya mengejar peningkatan volume produksi.
Pemerintah daerah juga menempatkan produktivitas, kualitas dan nilai tambah sebagai bagian penting dalam penguatan komoditas tersebut.
Dukungan diarahkan pada penyediaan sarana produksi, alat pengolahan hasil, serta pembangunan jalan usaha produksi perkebunan dan peternakan.
Penguatan sektor hilir juga menjadi perhatian. Pemerintah daerah mendorong peningkatan mutu mulai dari pascapanen, pengolahan hingga roasting agar produk kopi Tanggamus memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Ari mengatakan pembangunan infrastruktur produksi dan dukungan peralatan akan terus dilakukan untuk memperkuat rantai usaha kopi dari tingkat kebun hingga pengolahan.
“Di sisi hilir, kami akan terus mendorong peningkatan jalan produksi, memberikan bantuan alat pendukung dalam peningkatan produksi perkebunan serta peningkatan mutu pascapanen, pengolahan dan roasting,” tandasnya.
Dengan produksi 2025 mencapai 39.239 ton, tantangan pengembangan kopi Tanggamus kini tidak semata-mata terletak pada kemampuan meningkatkan volume. Peningkatan produktivitas per hektare, konsistensi mutu, penguatan pascapanen, serta peningkatan nilai tambah menjadi faktor penting untuk memperbesar manfaat ekonomi yang diterima petani.(*)












