TUBABA  

Satu Dekade Tubaba Art Festival, Usung Tema “Tatapan Baru, Tindakan Baru”, Hadirkan Ruang Kreativitas dan Kesadaran Budaya

TULANG BAWANG BARAT – Perjalanan satu dekade Tubaba Art Festival (TAF) menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas kebudayaan sekaligus menegaskan peran seni sebagai ruang tumbuhnya kesadaran, kreativitas, dan peradaban masyarakat.

Memasuki penyelenggaraan ke-10, Tubaba Art Festival (TAF) #10 akan digelar pada Sabtu, 7 November 2026, di Kota Budaya Ulluan Nughik, Panaragan, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung. Mengusung tema “Tatapan Baru: Tindakan Baru”, festival ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni, pameran, diskusi, literasi, hingga ruang kolaborasi ekonomi kreatif masyarakat.

Terpilih sebagai salah satu agenda dalam Kalender Karisma Event Nusantara (KEN) 2026, TAF bukan sekadar perhelatan seni tahunan. Festival ini menjadi bukti bahwa kebudayaan dapat tumbuh melalui semangat kolektif, kemandirian, serta keterlibatan masyarakat.

Direktur sekaligus Kurator TAF, Semi Ikra Anggara, mengatakan tema yang diangkat pada perayaan satu dekade ini merupakan refleksi perjalanan panjang festival dalam membangun ruang kebudayaan di Tubaba. Lebih dari itu, tema tersebut menjadi ajakan untuk melihat masa depan dengan perspektif baru dan mewujudkannya melalui tindakan nyata.

Menurut Semi, Tubaba tidak semata-mata dipandang sebagai akronim sebuah wilayah administratif, tetapi juga sebagai gagasan dan visi masa depan yang dibangun melalui kebudayaan.

“Sebermula kota ini dibangun dengan puisi. Ruang-ruang publik diciptakan seiring pembangunan jiwa manusianya,” ujar Semi.

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan melalui empat platform utama, yakni Perayaan Kesadaran, Bergerak Menjadi, Rimpang Literasi, dan Jenama Tubaba. Keempatnya dirancang untuk menghadirkan pengalaman kebudayaan yang melibatkan berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, seniman, komunitas literasi, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat luas.

Pada platform Perayaan Kesadaran, pengunjung akan disuguhkan hasil laboratorium penciptaan Sekolah Seni Tubaba. Salah satu agenda utamanya adalah pameran seni rupa bertajuk “Jiwa yang Tak Bisa Dipadamkan” di Galeri Kayu, yang berlangsung pada 7–15 November 2026 mulai pukul 09.00 WIB.

Selain itu, panggung Ampi Teater Ulluan Nughik akan menghadirkan seremonial pemberian penghargaan KEN kepada Tubaba Art Festival pada pukul 15.40 WIB, yang dirangkai dengan Tari Anak Play & Flow dan Tari Nenemo.

Kreativitas generasi muda juga mendapat ruang melalui pementasan teater musikal anak “Tapir-Tapir di Angkasa” pada pukul 16.10–17.00 WIB di selasar Sekolah Seni Tubaba.

Sementara itu, platform Bergerak Menjadi menjadi ruang perjumpaan berbagai ekspresi seni dan inspirasi. Panggung ini akan menghadirkan Lemawong pada pukul 18.10 WIB, dilanjutkan diskusi Sharing Time: Satu Dekade Pendidikan Seni Kontekstual pada pukul 19.00 WIB.

Suasana semakin semarak dengan penampilan Kelas Musik Sekolah Seni Tubaba berkolaborasi dengan Lamtim Art School pada pukul 19.30 WIB.

Puncak pertunjukan malam akan menghadirkan Voice of Baceprot (VoB), grup musik rock asal Garut yang berhasil membawa karya dan identitasnya menembus panggung musik internasional. Penampilan mereka dijadwalkan pukul 20.00–21.00 WIB.

Panggung kemudian ditutup oleh Namoy Budaya, proyek musik asal Lampung yang mengeksplorasi akar musikalitas lokal dengan karakter dan warna musik tersendiri, pada pukul 21.00–21.45 WIB.

Tidak hanya pertunjukan seni, TAF #10 juga memberikan perhatian besar terhadap penguatan tradisi literasi melalui platform Rimpang Literasi.

Berpusat di kawasan Nuwou Baca Malaka, pengunjung dapat menikmati pameran “DataArt: Extending Life” mulai pukul 10.00–17.00 WIB. Agenda lainnya adalah diskusi buku Filsafat Kebahagiaan Manusia Lampung karya John Heryanto bersama Alexander Gebe dan Ezed Qyoko pada pukul 11.00 WIB.

Di area selasar terbuka Sekolah Seni Tubaba, ruang perjumpaan komunitas literasi juga akan dibuka sejak pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Berbagai kegiatan disiapkan, mulai dari lapak baca, membaca buku bersama, lokakarya, berbagi bacaan, mendongeng, membaca puisi, hingga diskusi buku.

Ruang tersebut diharapkan menjadi wadah bagi komunitas dan masyarakat untuk saling bertukar gagasan, memperluas wawasan, serta membangun visi masa depan Lampung yang lebih inklusif, setara, dan penuh empati.

Aspek pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam perayaan satu dekade ini melalui platform Jenama Tubaba. Mengusung tajuk “Pasar Jenama: Dari Tangan Warga, untuk Dibawa Pulang”, kegiatan tersebut menghadirkan produk dan kreativitas warga di kawasan Ulluan Nughik.

Pengunjung juga dapat menikmati sajian dan kolaborasi bersama Kopi Tuku serta mengikuti lokakarya keramik bersama Baskoro Wicaksono. Kehadiran kegiatan ini memperlihatkan bahwa festival seni dapat menjadi ruang pertemuan antara kebudayaan, kreativitas, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Menariknya, penyelenggaraan TAF #10 berlangsung dengan semangat kemandirian di tengah tantangan pembiayaan dan tanpa dukungan pendanaan dari pemerintah daerah. Panitia memilih membuka ruang partisipasi publik melalui gerakan Sahabat Tubaba dengan gagasan “Semua Penonton Adalah Sponsor”.

Melalui gerakan tersebut, masyarakat diajak mengambil bagian dalam keberlangsungan festival melalui kontribusi terbuka sebesar Rp50.000, Rp75.000, Rp100.000, hingga Rp215.000.

Inisiatif ini sekaligus menegaskan bahwa keberlangsungan sebuah gerakan kebudayaan tidak hanya bergantung pada dukungan pemerintah, tetapi juga dapat tumbuh melalui kepedulian, gotong royong, dan keterlibatan masyarakat.

Satu dekade Tubaba Art Festival menjadi perjalanan yang patut diapresiasi. Di tengah berbagai keterbatasan, festival ini tetap berupaya menjaga ruang bagi seni, pendidikan, literasi, dan kreativitas warga.

Melalui tema “Tatapan Baru: Tindakan Baru”, TAF #10 membawa pesan bahwa kebudayaan bukan sekadar sesuatu yang dipertunjukkan atau dirayakan, melainkan nilai yang perlu dirawat dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ulluan Nughik pun kembali menjadi ruang perjumpaan gagasan dan ekspresi, tempat seni tidak hanya dinikmati, tetapi juga menjadi jalan untuk membangun kesadaran serta membayangkan masa depan Tubaba yang lebih berbudaya. (Jim)