Ramadhan di Balik Jeruji, Harapan Itu Tetap Menyala

TANGGAMUS – Suasana khidmat menyelimuti Masjid At-Taubah di Lapas Kelas IIB Kotaagung, Selasa malam (17/3/2026). Di balik tembok pembatas kebebasan, lantunan ayat suci dan doa-doa yang dipanjatkan menghadirkan ketenangan yang sama: harapan.

 

Pelaksana Harian Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Lampung, Maulidi Hilal, hadir di tengah para pegawai dan warga binaan. Ia tidak sekadar memimpin kegiatan, tetapi juga menyapa batin para jamaah melalui kuliah tujuh menit (kultum) yang sarat makna.

 

Dalam penyampaiannya, Ramadhan digambarkan sebagai ruang jeda—tempat setiap insan menata ulang langkah hidupnya. “Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik,” pesannya, menegaskan bahwa masa lalu tidak harus menjadi penentu masa depan.

 

Kata-kata itu seolah menemukan tempatnya di hati para warga binaan. Di tempat yang sering dipersepsikan sebagai akhir dari segalanya, justru tumbuh awal yang baru. Ramadhan, bagi mereka, bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan peluang untuk memperbaiki diri dan menumbuhkan kembali harapan.

 

Usai kultum, saf-saf salat tarawih pun tersusun rapi. Pegawai dan warga binaan berdiri sejajar, melebur dalam satu tujuan: mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tak ada sekat jabatan, tak ada jarak status—yang ada hanya kesadaran bahwa setiap manusia sedang berproses menjadi lebih baik.

 

Maulidi Hilal secara khusus mengingatkan warga binaan untuk tidak larut dalam keputusasaan. Ia mengajak mereka menjadikan bulan suci ini sebagai titik balik.

 

“Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah. Setiap langkah kebaikan akan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna,” ujarnya.

 

Di Masjid At-Taubah malam itu, Ramadhan hadir bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai cahaya yang menuntun—bahwa bahkan di balik jeruji, harapan tetap hidup dan perubahan selalu mungkin terjadi. (*)