Kawanan Gajah Liar Rusak Perkebunan Warga di Semaka, Tanggamus

TANGGAMUS – Kawanan gajah liar kembali memasuki areal perkebunan warga di Dusun Tumpak Bayur, Pekon Sedayu, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Sebanyak 10 ekor gajah dilaporkan turun dari kawasan hutan pada Rabu malam (17/6/2026) dan merusak berbagai tanaman produktif milik masyarakat.

Peristiwa tersebut terjadi di wilayah penyangga Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Tanaman yang mengalami kerusakan meliputi jagung, kopi, kakao, kelapa, hingga pohon pisang yang menjadi sumber penghidupan utama warga setempat.

Salah seorang warga, Aldi, mengatakan bahwa kejadian serupa bukan kali pertama terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan gajah liar di areal perkebunan warga disebut semakin sering dan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

“Tanaman jagung yang hampir panen habis dirusak hanya dalam satu malam. Ini sangat berdampak karena hasil kebun merupakan penopang kebutuhan sehari-hari warga,” ujarnya. Kamis,(18/6/2026).

Kerusakan yang ditimbulkan kawanan gajah tersebut membuat warga kembali menghadapi ancaman kehilangan hasil panen dan pendapatan. Kondisi itu dinilai semakin membebani masyarakat yang menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarga dari sektor perkebunan.

Warga mengaku memahami bahwa gajah merupakan satwa yang dilindungi. Namun, mereka menilai penanganan konflik satwa liar di kawasan tersebut perlu dilakukan secara lebih serius dan berkelanjutan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Masyarakat Dusun Tumpak Bayur mendesak Pemerintah Kabupaten Tanggamus, Balai Besar TNBBS, serta tim penanganan konflik satwa untuk segera turun ke lapangan. Langkah cepat dinilai penting untuk mengantisipasi pergerakan kawanan gajah dan mencegah kerusakan yang lebih luas.

Selain penanganan darurat, warga juga berharap adanya solusi jangka panjang melalui program mitigasi yang efektif, termasuk penguatan sistem peringatan dini dan pengamanan wilayah perkebunan yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa konflik antara manusia dan satwa liar di sekitar kawasan konservasi masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian dan penanganan terpadu dari seluruh pihak terkait. (*)