Antrean BBM Bersubsidi Mengular di Tanggamus, Pasokan Solar dan Pertalite Disebut Berkurang

Tanggamus, Lampung – Antrean panjang kendaraan di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Tanggamus semakin sering terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini diduga dipicu oleh meningkatnya permintaan BBM bersubsidi serta berkurangnya pasokan Solar dan Pertalite yang diterima SPBU dari depo penyalur.

Dimas, salah seorang petugas SPBU di Jalan Lintas Barat (Jalinbar) Kabupaten Tanggamus, mengatakan lonjakan antrean terjadi hampir setiap hari, terutama pada pengisian Pertalite dan Bio Solar. Menurutnya, banyak masyarakat yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini beralih ke Pertalite karena pertimbangan.

“Masih ada yang membeli Pertamax, tetapi jumlahnya jauh berkurang dibandingkan sebelumnya. Sebaliknya, permintaan Pertalite meningkat signifikan sehingga antrean kendaraan menjadi lebih panjang,” ujarnya.

Tidak hanya Pertalite, antrean kendaraan untuk mendapatkan Bio Solar juga terjadi di hampir seluruh SPBU. Bahkan, antrean kerap meluber hingga ke badan jalan dan berpotensi mengganggu arus lalu lintas.

Dimas menjelaskan bahwa stok BBM non-subsidi saat ini relatif aman. Namun, ketersediaan BBM bersubsidi, khususnya Solar dan Pertalite, sangat terbatas karena pasokan yang diterima SPBU mengalami penurunan.

“Stok BBM non-subsidi aman. Yang terbatas adalah BBM bersubsidi jenis Solar dan Pertalite,” katanya.

Ia mengungkapkan bahwa jumlah pasokan Bio Solar yang diterima SPBU tempatnya bekerja turun drastis dibandingkan kondisi normal. Jika sebelumnya SPBU menerima sekitar 18.000 liter per hari, kini pasokan hanya sekitar 8.000 liter per hari.

“Pasokan yang kami terima saat ini berkurang lebih dari separuh dari biasanya. Dengan kondisi seperti itu, wajar jika stok BBM subsidi cepat habis. Sekarang saja SPBU buka pagi, menjelang waktu Zuhur stok Bio Solar sudah kosong,” terangnya.

Sementara itu, data resmi PT Pertamina dan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Lampung menunjukkan bahwa kuota Pertalite untuk Provinsi Lampung pada tahun ini mengalami penurunan sebesar 11,41 persen. Dari sebelumnya 784.883.000 liter, kuota Pertalite ditetapkan menjadi 663.420.000 liter atau berkurang lebih dari 121 juta liter.

Penyesuaian kuota tersebut dilakukan berdasarkan evaluasi tingkat penyerapan pada tahun sebelumnya yang dinilai belum optimal. Namun di lapangan, berkurangnya kuota dan tingginya permintaan masyarakat kini berdampak pada semakin cepat habisnya stok BBM bersubsidi di sejumlah SPBU.

Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan pelaku usaha yang bergantung pada ketersediaan BBM bersubsidi. Pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan segera memberikan penjelasan serta langkah konkret guna memastikan distribusi BBM bersubsidi tetap berjalan lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.(Bowo)