Presentasi Sekolah Seni Tubaba Menarik Minat Masyarakat

TULANGBAWANG BARAT-Presentasi Sekolah Seni Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) menarik minat seni masyarakat.

Pasalnya, acara tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat. Mulai dari masyarakat biasa, seniman, pejabat daerah sampai Bupati.

Kegiatan tersebut berlangsung semarak di kawasan tiyuh-tiyuh, Uluan Nughik, Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah, kabupaten setempat, Sabtu (23/4/2022) lalu.

“Kegiatan ini juga berlangsung semarak karena selain menampilkan kelas-kelas yang biasa dilakukan tahun sebelumnya, seperti teater, tari, musik dan seni rupa, adanya penambahan program tambahan berupa pementasan karya sastra dan aktivasi peralatan musik modern dan tradisional,” ungkap Direktur Sekolah Seni Tubaba, Semi Ikra Anggara, kepada wartawan, Senin (25/04/2022).

Lanjut Semi, Sekolah Seni Tubaba tidak bermaksud mendorong peserta didik menjadi seniman, melainkan menjadikan proses kesenian untuk pengembangan diri. Dengan proses kesenian kualitas hidup seseorang akan lebih baik.

Sementara itu, Bupati Tubaba, Umar Ahmad menyatakan bahwa pelatihan kesenian di Sekolah Seni Tubaba adalah merupakan salah satu jalan pulang ke Masa Depan. Sebuah visi metaforik Tubaba untuk memperbaiki kualitas kota dalam berbagai aspek.

“Pertunjukan musik jimbe menjadi pembuka acara. Para pemain yang rata-rata berusia sekolah dasar dan menengah tampil di bawah arahan Yoyon Gideon, seniman asal Tiyuh Pulung Kencana. Posisi penampilan berjejer mengikuti di jalan setapak, tepat di samping sekretariat Tubaba Cerdas,” jelasnya

lanjut dia, penampilan dengan membawakan instrumen musik asal Brazil, berfungsi sebagai musik pembuka (overture), menyambut kedatangan tamu, termasuk Bupati Tubaba dan rombongan.

Selanjutnya di area utama, ampiteater Tiyuh-tiyuh berturut-turut digelar pementasan Tari Nenemo, Kecapi dan Biola. Tari Nenemo dibawakan oleh 16 penari generasi baru, di bawah arahan Kiki Windarti, seorang penari asal Tiyuh Panaragan, yang telah lama aktif di Sanggar Pakem dan terlibat dalam kerja-kerja kepenarian bersama Sekolah Seni Tubaba.

Adapun Komposer Romy Jaya Saputra, memfasilitasi pelatihan dua instrumen musik, kecapi dan biola. Penampilan musik kecapi terbagi ke dalam kelompok (utara dan selatan Tubaba), pembawaan alat musik dari Jawa Barat tersebut terdengar lirih, membuat suasana pertunjungan terkesan lebih khusyuk.

Pertunjukan musik biola membuat para penonton terpukau, baru satu dua nada instrumen musik asal Italia tersebut langsung membuat ratusan penonton bertepuk tangan. Komposisi biola membawakan lagu Can Help Falling in Love with You, besutan Elvis Presley

Pada akhir pementasan, kata dia, penonton semakin berdecak kagum saat penyanyi Euniqe Gracia turut berkolaborasi dengan membawakan lagu “ Cinta untuk Mama” yang pernah dipopulerkan oleh Kenny dan Vidi Aldiano.

Di Jembatan Bidadari, bersama komposer Edhitiya Rio sekitar 52 anak memainkan dua instrumen musik Lampung, yaitu serdam dan cetik. Serdam, instrumen musik tiup yang identik dengan suasana bukit di Lampung Barat.

“Ini bukan hal baru di Tubaba tahun lalu serdam pernah dibawakan dalam kegiatan yang sama sedangkan cetik, instrumen tradisional Lampung baru dibawakan pada tahun ini sementara Tubaba sendiri telah menciptakan instrumen musik Q-thik yang merupakan pengembangan dari cetik,” paparnya.

Dalam bidang seni Film Aufaris Opaw menayangkan sebuah film animasi pendek tentang anak petani yang bercita-cita pergi ke langit. Ada gambaran pohon-pohon karet, menunjukan seorang anak petani karet yang bercita-cita tinggi. Sedangkan para peserta kelas film, menayangkan karya film dokumenter mini mereka dengan menggarap program-program pelatihan kesenian di Sekolah Seni Tubaba.

Dalam film tersebut, kata Dia, selain kita menyaksikan Teknik-teknik sinematik, kita juga mendapatkan informasi-informasi penting terkait berjalannya program Sekolah Seni Tubaba tahun 2022.
Bersama Seniman Suvi Wahyudianto, para peserta kelas seni rupa belajar lebih mengenali lingkungan hidup di sekitarnya.

Menurut nya, dipilihlah karet, kemudian mereka melakukan riset sederhana tentang komoditi pertanian yang dominan tersebut. Hasilnya adalah sebuah pameran mini bertajuk “Perjalanan Karet”. Pameran kali ini bisa dibilang di luar kebiasaan, yang biasanya hanya memamerkan karya-karya seni Lukis di atas kanvas.

Pameran kali ini menggunakan media campuran, ada gambar di atas kertas, lukisan di atas karung goni, sketsa, instalasi mainan anak, potret diri di atas kertas, gambar di atas benda pakai, fotografi, video dan teks naratif.

“Sekolah Seni Tubaba sendiri merupakan program non formal Pendidikan kesenian yang didukung Pemda Tubaba melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, program ini secara konsisten telah digelar selama tujuh tahun, metode pengembangan diri melalui Pendidikan kesenian seperti ini, mungkin satu-satunya yang dilakukan oleh sebuah pemerintah daerah di Indonesia,” imbuhnya.(Jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *