Warga Tubaba Wakili Lampung Jadi Peserta PLNJ-IDAB 2021

Mochamad Yusuf (tengah) bersama dua rekannya. (foto: dok)
Mochamad Yusuf (tengah) bersama dua rekannya. (foto: dok)

TULANGBAWANG BARAT-Seorang pria penyandang disabilitas asal Kabupaten Tulangbawang Barat (Tubaba) bernama Mochamad Yusuf Ahdatiar terpilih menjadi peserta Pameran Lintas Negara
Jogja International Disability Arts Biennale (PLNJ-IDAB) 2021 mewakili Provinsi Lampung.

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tubaba, Fauzi Hasan yang didampingi Ketua Harian Ansyori mengatakan, pria penyandang tunarungu merupakan satu-satunya peserta yang mewakili Provinsi Lampung dalam pameran seni rupa skala internasional tersebut.

“Mochamad Yusuf merupakan warga Tiyuh (Desa) Mulya Jaya, Kecamatan Tulangbawang Tengah, Kabupaten Tubaba. Alhamdulillah bisa mengikuti pameran yang diselenggarakan sejak tanggal 15 sampai 30 Oktober 2021 itu,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan, Senin (25/10/2021).

Lanjutnya, pameran seni lukis yang bertajuk Rima Rupa itu diselenggarakan di Galerry RJ Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta.

Pameran bertujuan menjalin satu harmoni dan sinergi kedepan untuk kemajuan bersama melalui jalan berkesenian bagi disabilitas.

“Tema ini dipilih untuk menandai keberagaman dan kebebasan dalam berekspresi secara visual baik pilihan gaya dalam seni rupa, teknik, maupun ide para peserta yang mengikuti pameran ini. Seperti halnya sebuah rima, pameran yang berulang dalam keragaman dan kebebasan ini akan berusaha untuk menemukan irama dan keindahannya dalam bahasa rupa.
Keberagaman teknik, gaya, usia, kultur, pendidikan dan disabilitas disatukan dalam satu pameran sebagai bentuk berbagi pengetahuan dalam bidang seni rupa,” jelasnya.

Kurang lebih 95 karya lukis dan olah digital dari 56 perupa disabilitas yang berasal dari berbagai negara: Indonesia, Filipina, Korea, Mesir, Brazil, Colombia, Afrika selatan, Australia, New Zeland, Kroasia, serta United Kingdom, dipamerkan.

Pameran digelar inklusif dan aksesibel, bisa disaksikan dan dinikmati oleh semua orang, tak terkecuali orang dengan disabilitas.

“Bagi tuli, misalnya, disediakan penerjemah bahasa isyarat. Sedangkan bagi disabilitas netra, disediakan juru bisik atau pendamping yang akan menginfomasikan tiap-tiap karya,” pungkasnya.(Jim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *